UNTUKMU DENGAN SEGALA BATASKU

Untuk kamu,


Aku tidak menyesali pertemuan yang menyebabkan perpisahan,
Aku tidak menyesali perdebatan yang menyebabkan pertengkaran,
Aku tidak menyesali kebersamaan yang berubah menjadi kesendirian,
Aku tidak menyesali tawa yang berubah menjadi tangis,
Aku tidak menyesali keberadaanmu, yang sempat disisiku.

Sejak dulu,
Kamu sudah lama sekali,
Ada disudut hati paling dalam,
Menjadi doa yang paling aku semogakan,
Lalu muncul ke permukaan,
Menjadi doa yang benar-benar di kabulkan,
Entah mengapa, saat itu...
Aku punya keberanian besar untuk mengenalkanmu pada dunia,
Mengusahakan kamu dan aku untuk menjadi kita.

Aku beranikan diri keluar dari lingkaran nyaman ini,
Untuk menghampirimu,
Untuk lebih dekat denganmu,
Untuk lebih mengenalmu,
Untuk mencintaimu dengan benar,
Untuk mengertimu dengan baik,
Untuk membantumu menjadi laki-laki seutuhnya,
Untuk mengajarimu apa itu perjuangan dan apa arti menunggu,

Aku membawa namamu pada malam-malam sunyi yang hanya Dia yang dapat mendengarnya,
Aku membawa namamu pada siang-siang terang yang hanya Dia yang dapat melihatnya,
Aku menitipkan rasaku yang begitu besar padamu, kepada-Nya, Tuhanku

Setelah doa-doa, perjuangan dan waktu menunggu yang lama, serta kesabaran,
Aku harus menghadapi kenyataan, bahwasanya aku telah menggenggam tanganmu sejak lama, namun kamu selalu mencoba melepasnya,
Kamu selalu ingin bebas, kamu ingin jauh dariku
Sebab itu, sejak awal kamu tidak pernah benar-benar datang menghampiriku,
Kamu tidak pernah benar-benar membawaku dalam doa-doamu yang kamu ucapkan pada Tuhan pada malam-malam yang sunyi dan siang-siang yang terang,
Sebab itu, Tuhan memberitahuku bahwa kamu memang tidak untukku

Aku dengar, bahwa harus ada dua tangan yang saling menggenggam agar tidak saling melepas,
Bahwa harus ada dua insan yang saling mengusahakan dan memperjuangkan untuk saling bertahan,
Detik ini aku menyadarinya, sejak awal aku berjuang sendiri
Sejak awal aku menggenggam sendiri
Sejak awal aku berlari sendiri
Detik ini pun aku menyadarinya, aku sudah mencapai batasku
mengenai kesabaran,
perjuangan,
dan penantian

Aku tidak membenci perpisahan kita yang hanya 'diam' tanpa seseorangpun berusaha mendebat, entah untuk mempertahankan atau sekalian saja menghancurkan,
Hanya saja aku membenci diriku yang tak berani tegas ingin benar-benar meninggalkanmu,
Aku terbiasa mencintaimu,
Maklum saja, hampir separuh usiaku sudah kuhabiskan untuk menyebut namamu dalam doaku dengan suara parau dan kehabisan nafas,

Saat ini sungguh sulit berbohong bahwa aku baik-baik saja,
Namun, aku sungguh mengijinkanmu pergi dari hidupku selamanya, aku akan mengantarmu ke gerbang depan untuk keluar sekalian membawa semua hal yang telah kita bangun bersama dan hancurkan bersama. 
Aku akan mengantarmu dengan sisa tenaga yang kumiliki dan kewarasan yang hampir habis

Pergilah dengan baik-baik saja,
Aku tidak akan mencegahmu lagi,
Tidak akan memohon untukmu tinggal,
Karena sejak awal kamu memang ingin pergi.

Carilah yang kamu inginkan,
Semoga kamu akan dapatkan yang kamu semogakan,
Semoga kamu akan dapatkan yang sempurna,
Maaf telah sempat memaksamu tinggal menemani orang yang cacat ini,
Maaf telah egois padamu dengan segala rasa yang begitu ingin memilikimu.

Jangan khawatir,
Aku telah bicara pada hatiku untuk membiarkanmu bebas,
Dan jika akhirnya cerita panjang ini adalah aku harus melihatmu bersanding dengan wanita lain,
Maka aku siap tertawa bahagia demi mengiringi tawamu saat itu,
Sembari berbisik pada diriku sendiri,
Bahwa aku akan menunggumu dikehidupan yang lain,
Dengan aku yang tidak memiliki segala batasan dan kecacatan ini,
Dengan aku yang sempurna untukmu dan melengkapimu.

Selamat tinggal cerita panjang yang telah berakhir tanpa ada yang mengakhiri,
Bahagialah



July 17, 2020
-Nay



Komentar

Postingan Populer